-->

The Power of Tasawuf reiki

Disadari atau tidak, spiritualitas telah menjadi persoalan inheren yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Spiritualitas, baik yang berbasis pada ajaran agama maupun spiritualitas universal, keduanya merupakan media untuk menumbuhkan kesadaran psiko-spiritual menuju kesadaran eksistensial yang sempurna. Sains memang diakui telah dapat memecahkan problematika peradaban fisik dan berbagai eksistensi yang menopangnya. Tetapi dampak-dampak negatif sains tidak dapat diselesaikan oleh dirinya sendiri. Disinilah urgensi sebuah spiritualitas. Dengan pemahaman spiritual kita akan dapat memperluas kesadaran ke arah kesadaran yang lebih tinggi, tidak sekedar kesadaran sebagai makhluk fisik. Manusia harus menyadari bahwa dirinya juga makhluk psiko-spiritual yang memiliki ruhani yang menjadi essensi dari eksistensi manusia.





Manusia merupakan makhluk unggul sehingga ditaqdirkan menjadi khalifah fil ardli (penguasa dan pengatur bumi) karena hardware-hardware yang dimilikinya melebihi makhluk lain. Disamping memiliki potensi untuk dapat melakukan evolusi fisik (dengan ilmu pengetahuan dan teknologi), manusia juga dikarunia oleh Allah SWT potensi-potensi untuk melakukan evolusi spiritual (dengan olah spiritualitas). Evolusi spiritual itu dilakukan dengan cara menarik energi ilahi (nur Muhammad) sebagaimana dilakukan dalam praktek reiki dan tasawuf, baik untuk penyembuhan, peningkatan kemampuan psikis (paranormal) maupun peningkatan spiritualitas. Hal ini berbeda dengan malaikat, yang walaupun berada pada dimensi yang lebih tinggi dari manuisa, para malaikat tidak dapat mengakses energi yang lebih tinggi untuk kepentingan dirinya yaitu untuk melakukan evolusi atas dirinya sendiri. Tidak ada evolusi di dunia malaikat, walaupun mereka berada di alam yang lebih tinggi dari manusia.

Evolusi spiritual yang dilakukan manusia dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari malaikat. Manusia paripurna (al-insan al-kamil) dapat mengakses energiilahi (nur Muhammad) dan menjadikan dirinya melejit melampaui malaikat.1 Hal ini tergambar dalam sejarah kenabian Muhammad ketika melakukan mi’raj. Ketika Nabi Muhammad mi’raj (perjalanan spiritual dari masjid al-Aqsa ke Sidratul Muntaha), malaikat Jibril berhenti hanya sampai pintu gerbang dan tidak sanggub mengawal Nabi menghadap Allah SWT. Sidratul Muntaha merupakan wilayah rahasia Allah SWT yang tidak terjangkau oleh manusia kecuali para Nabi-Nabi yang dikasihi-Nya. Dalam kapasitas dan kualitas yang berbeda, manusia juga dapat melakukan perjalanan spiritual sebagaimana dilakukan oleh para Nabi dan Wali-wali Allah. Hanya saja pola dan bentuk perjalanannya berbeda. (Syamsul Bakri, The Power of Tasawuf reiki: Sehat Jasmani Rohani dengan Psikoterapi Islami, Yogyakarta, Galang Press, 2009)

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner